"PPSNH Univeristy"

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 25 Oktober 2020

MENCIUM TANGAN ORANG SHOLIH

 

**~MENCIUM TANGAN ORANG SHOLEH DAN BERDIRI MENGHORMATI KEDATANGANNYA~**

Perlu diketahui bahwa mencium tangan orang yang saleh, penguasa yang bertakwa dan orang kaya yang saleh adalah perkara yang mustahabb (sunnah) yang disukai Allah, berdasarkan hadits-hadits Nabi dan dan atsar para sahabat.

Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lainnya: bahwa ada dua orang Yahudi bersepakat “Mari kita pergi menghadap Nabi ini untuk menanyainya tentang sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa. Maksud dua orang ini adalah ingin mencari kelemahan Nabi karena diaummi (karenanya mereka menganggapnya tidak mengetahui sembilan ayat tersebut) , maka tatkala Nabi menjelasan kepada keduanya (tentang sembilan ayat tersebut) keduanya terkejut dan langsung mencium kedua tangan Nabi dan kakinya. Imam at–Tarmidzi berkomentar tentang hadits ini: ” hasan sahih “.

Abu asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ka’ab bin Malik -semoga Allah meridlainya- dia berkata: “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubat-ku, aku mendatangi Nabi lalu mencium kedua tangan dan lututnya” .

 Imam al Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al Adab al Mufrad bahwa Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridlainya- telah mencium tangan Abbas dan kedua kakinya, padahal Ali lebih tinggi derajatnya daripada ‘Abbas namun karena ‘Abbas adalah pamannya dan orang yang saleh maka dia mencium tangan dan kedua kakinya.

 Demikian juga dengan ‘Abdullah ibnu ‘Abbas -semoga Allah meridlainya- yang termasuk kalangan sahabat yang kecil ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam mwninggal. Dia pergi kepada sebagian sahabat untuk menuntut ilmu dari mereka. Suatu ketika beliau pergi kepada Zaid bin Tsabit yang merupakan sahabat yang paling banyak menulis wahyu, ketika itu Zaid sedang keluar dari rumahnya. Melihat itu ‘Abdullah bin Abbas memegang tempat Zaid meletakan kaki di atas hewan tunggangannya. Lalu Zaid bin Tsabit-pun mencium tangan ‘Abdullah bin ‘Abbas karena dia termasuk keluarga Rasulullahshallallahu ‘alayhi wasallam sambil mengatakan: “Demikianlah kami memperlakukan keluarga Rasulullahshallallahu ‘alayhi wasallam“. Padahal Zaid bin Tsabit lebih tua dari ‘Abdullah bin ‘Abbas. Atsar ini diriwayatkan oleh al Hafizh Abu Bakar bin al Muqri pada Juz Taqbil al Yad.

 Ibnu Sa’ad juga meriwayatkan dengan sanadnya dalam kitab Thabaqaat dari ‘Abdurrahman bin Zaid al ‘Iraqi, ia berkata: “Kami telah mendatangi Salamah bin al Akwa’ di ar-Rabdzah lalu ia mengeluarkan tangannya yang besar seperti sepatu kaki unta lalu dia berkata : “Dengan tanganku ini aku telah membaiat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, lalu kami meraih tangannya dan menciumnya “.

 Juga telah diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Imam Muslim mencium tangan Imam al Bukhari dan berkata kepadanya: 

ولو أذنت لي لقبلت رجلك 
“Seandainya anda mengizinkan pasti aku cium kaki anda”.

Dalam kitab at-Talkhish al Habir karangan al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqalani disebutkan: ” Dalam masalah mencium tangan ada banyak hadits yang dikumpulkan oleh Abu Bakar bin al Muqri, kami mengumpulkannya dalam satu juz, di antaranya hadits Ibnu Umar dalam suatu kisah beliau berkata:

فدنونا من التبي صلى الله عليه وسلم فقبلنا يده ورجله (رواه أبو داود)  
“Maka kami mendekat kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam lalu kami cium tangan dan kakinya”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.
Di antaranya juga hadits Shafwan bin ‘Assal, dia berkata: “Ada seorang Yahudi berkata kepada temannya: Mari kita pergi kepada Nabi ini (Muhammad). Lanjutan hadits ini:

فقبلا يده ورجله وقالا: نشـهد أنك نبي 
“Maka keduanya mencium tangan Nabi dan kakinya lalu berkata: Kami bersaksi bahwa engkau seorang Nabi”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Para Penulis Kitab-kitab Sunan (yang empat) dengan sanad yang kuat.
Juga hadits az-Zari’ bahwa ia termasuk rombongan utusan Abdul Qays, ia berkata:
فجعلنا نتبادر من رواحلنا فنقبل يد النبي صلى الله عليه وسلم  
“Maka kami bergegas turun dari kendaraan kami lalu kami mencium tangan Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam ”.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Dalam hadits tentang peristiwa al Ifk (tersebarnya kabar dusta bahwa ‘Aisyah berzina) dari ‘Aisyah, ia berkata : Abu Bakar berkata kepadaku :
قومي فقبلي رأسه  
“Berdirilah dan cium kepalanya (Nabi)”.

Dalam kitab sunan yang tiga (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i) dari ‘Aisyah ia berkata:
ما رأيت أحدا كان أشبه سمتا وهديا ودلا برسول الله من فاطمة، وكان إذا دخلت عليه قام إليها فأخذ بيدها فقبلها وأجلسها في مجلسه ، وكانت إذا دخل عليها قامت إليه فأخذت بيده فقبلته، وأجلسته في مجلسها  
“Aku tidak pernah melihat seorangpun lebih mirip dengan Rasulullah dari Fathimah dalam sifatnya, cara hidup dan gerak-geriknya. Ketika Fathimah datang kepada Nabi, Nabi berdiri menyambutnya lalu mengambil tangannya kemudian menciumnya dan membawanya duduk di tempat duduk beliau, dan apabila Nabi datang kepada Fathimah, Fathimah berdiri menyambut beliau lalu mengambil tangan beliau kemudian menciumnya, setelah itu ia mempersilahkan beliau duduk di tempatnya”.

Demikian penjelasan al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab at-Talkhish al Habir .
Dalam hadits yang terakhir disebutkan juga terdapat dalil kebolehan berdiri untuk menyembut orang yang masuk datang ke suatu tempat jika memang bertujuan untuk menghormati bukan untuk bersombong diri dan menampakkan keangkuhan.

Sedangkan hadits riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari Anas bahwa para sahabat jika mereka melihat Nabi mereka tidak berdiri untuknya karena mereka mengetahui bahwa Nabi tidak menyukai hal itu, hadits ini tidak menunjukkan kemakruhan berdiri untuk menghormati. Karena Rasulullah tidak menyukai hal itu sebab takut akan diwajibkan hal itu atas para sahabat. Jadi beliau tidak menyukainya karena menginginkan keringanan bagi ummatnya dan sudah maklum bahwa Rasulullah kadang suka melakukan sesuatu tapi ia meninggalkannya meskipun ia menyukainya karena beliau menginginkan keringanan bagi ummatnya.

Sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
” من أحب أن يتمثل له الرجال قياما فليتبوأ مقعده من النار” 
Berdiri yang dilarang dalam hadits ini adalah berdiri yang biasa dilakukan oleh orang-orang Romawi dan Persia kepada raja-raja mereka. Jika mereka ada di suatu majlis lalu raja mereka masuk mereka berdiri untuk raja mereka dengan Tamatstsul ; artinya berdiri terus hingga sang raja pergi meninggalkan majlis atau tempat tersebut. Ini yang dimaksud dengan Tamatstsul dalam bahasa Arab.

Sedangkan riwayat yang disebutkan oleh sebagian orang bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wasallammenarik tangannya dari tangan orang yang ingin menciumnya, ini adalah hadits yang sangat lemah menurut ahli hadits.
Sungguh aneh orang yang menyebutkan hadits tersebut dengan tujuan menjelekkan mencium tangan, bagaimana dia meninggalkan sekian banyak hadits sahih yang membolehkan mencium tangan dan berpegangan dengan hadits yang sangat lemah untuk melarangnya

SISTEMATIKA SUMBER HUKUM ISLAM

 BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hukum Islam mencerminkan seperangkat norma Ilahi yang mengatur tata hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam kehidupan sosial hubungan manusia dengan benda dan alam lingkunganhidupnya.Norma Illahi yang mengatur tata hubungan tersebut adalah kaidah-kaidah dalam arti khusus atau kaidah ibadah murni, mengatur cara dan upacara hubungan langsung antara manusia dengan sesamanya dan makhluk lain di lingkungannya.
Ciri khas hukum Islam, yakni berwatak universal, berlaku abadi untuk umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam dimanapun mereka berada, tidak terbatas pada umat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa, menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga, rohani dan jasmani, serta memuliakan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan, pelaksanaan dalam praktik digerakkan oleh iman dan akhlak umat Islam. Banyak teori tentang sumber hukum Islam, tetapi penulis akan menuliskan tentang sumber hukum Islam yang terdiri dari Al-Quran, Hadits, dan Ijtihad. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sumber-sumber hokum Islam dan metode Istidlal dari empat mazhab.

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja sumber hukum islam ?
2. Metode apa saja yang di pakai dalam berijtihad?
3. Bagaimana metode istidlal dari empat mazhab yang popular?

C. Tujuan
Tujuan dituliskannya makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kita akan sumber hukum Islam , metode-metode berijtihad dan metode Istidlal dari 4 mazhab.




BAB II
PEMBAHASAN

SISTEMATIKA SUMBER HUKUM ISLAM

Agama Islam memiliki pedoman yang sangat penting dalam menghadapi hidup. Setiap muslim diwajibkan agar berpedoman dengan sumber-sumber
tersebut. Sumber-sumber tersebut terdapat beberapa bagian. Sumber yang paling penting, sempurna, tidak diragukan, berlaku sepanjang zaman dan diwajibkan pula setiap muslim atas pemahamannya yaitu Al-Quran. Sumber lainnya cukup penting dalam pengaplikasian dari Al-Quran ke kehidupan sehari-hari yaitu Hadits dan ijtihad yang diambil berdasarkan kedua sumber tersebut.

A. Al-Qur’an al-karim

Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dengan bahasa Arab dengan perantaraan malaikat Jibril, sebagai hujjah (argumentasi) bagi-Nya dalam mendakwahkan kerasulan-Nya dan sebagai pedoman hidup bagi manusia yang dapat dipergunakan untuk mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta sebagai media untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Tuhan dengan membacanya. Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw ini terwujud dalam bahasa arab dan secara autentik terhimpun dalam mushaf.1
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari atau banyak juga yang membulatkannya menjadi 23 tahun.2

Keistimewaan yang di miliki Al-Qur’an sebagai wahyu Allah ini ada banyak sekali, di antaranya yaitu:

a. Lafadh dan maknanya berasal dari Tuhan. Lafadh yang berbahasa Arab itu dimasukkan ke dalam dada Nabi Muhammad, kemudian beliau membaca dan terus menyampaikannya kepada umat. Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari sisi Allah ialah ketidaksanggupan (kelemahan) orang-orang membuat tandingannya walaupun mereka sastrawan sekalipun.
b. Al-Qur’an sampai kepada kita secara mutawatir, yakni dengan cara penyampaian yang menimbulkan keyakinan tentang kebenarannya, karena disampaikan oleh sekian banyak orang yang mustahil mereka bersepakat bohong.
c. Tidak ada yang bisa memalsukan Al-Qur’an karena ia terjaga keasliannya.

Firman Allah dalam surat Al-Hijr ayat 9 yang artinya “sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an, dan sungguh Kami yang memeliharanya”. Hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an ada 3 yaitu hokum I’tiqadiyah, hukum akhlaq, hukum amaliah.

1. Hukum I’tiqadiyah yaitu hukum-hukum yang berkaitan dengan kewajiban para mukallaf untuk mempercayai Allah, malaikat-malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Rasul-rasul Allah dan hari pembalasan.
2. Hukum akhlaq yaitu tingkah laku yang berhubungan dengan kewajiban orang mukallaf untuk menghiasi dirinya dengan sifat-sifat keutamaan dan menjauhkan dirinya dari sifat-sifat yang tercela.
3. Hukum amaliah yaitu yang bersangkutan dengan perkataan, perbuatanperbuatan, perjanjian-perjanjian, dan mu’amalah (kerja sama) sesama manusia.

Hukum amaliah sendiri terbagi menjadi dua, yaitu hukum ibadat, seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain dimana hukum ini diciptakan dengan tujuan untuk mengatur hubungan hamba dengan Tuhan serta hukum mu’amalat seperti segala macam perikatan, transaksi-transaksi kebendaan, jinayat dan ‘uqubat (hokum pidana dan sanksi-sanksinya) dan lain sebagainya.
Menafsirkan Al-Quran ada beberapa cara, yang pertama adalah penafsiran dengan cara lama yaitu, menafsirkan dengan satu per satu ayat yang turun tanpa mengumpulkan atau menghimpun terlebih dahulu. Metode ini dianggap memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah menghabiskan waktu secara percuma, meninggalkan gagasan tertentu dalam sebuah ayat tertentu yang mengandung gagasan tersebut, dan memperlakukan Al-Quran secara atomistis, parsial, dan tidak integral.3 Kedua, penafsiran dengan cara menghimpun dalam tema-tema.
Cara yang kedua ini dianggap cara yang termodern karena dengan menghimpun terlebih dahulu, kita dapat membandingkan dan mengambil kesimpulan yang tepat.

B. Al-Hadits

 Ta’rif tentang Hadist
As-Sunnah menurut bahasa berarti cara, jalan, kebiasaan, dan tradisi.4 Kebiasaan mencakup kehidupan sehari-hari dan yang baik dan buruk. Seperti sabda Nabi SAW, “barangsiapa membuat sunnah yang terpuji maka baginya pahala sunnah itu dan pahala sunnah yang buruk maka padanya dosa sunnah buruk itu dan dosa yang mengamalkan sampai hari kiamat.”5
Pengertian sunnah menurut ahli hadits adalah sesuatu yang didapatkan dari Nabi SAW yang terdiri dari ucapan, perbuatan, persetujuan, sifat fisik atau budi, atau biografi, baik pada sebelum kenabian ataupun sesudahnya.6 Menurut istilah para ahli pokok agama (al-ushuliyyudin), sunnah ialah sesuatu yang diambil dari Nabi SAW, yang terdiri dari sabda, perbuatan dan persetujuan saja.7

Sesuai dengan tiga hal tersebut di atas yang disandarkannya kepada
Rasulullah saw. maka Sunnah dapat dibedakan kepada 3 macam:
a. Sunnah qauliyah (perkataan), yaitu sabda yang beliau sampaikan dalam beraneka tujuan dan kejadian . Misalnya hadits yang berbunyi: “tidak ada kemudharatan dan tidak pula memudharatkan” Adalah suatu Sunnah qauliyah yang bertujuan memberikan sugesti kepada umat Islam agar tidak membuat kemudharatan kepada dirinya sendiri dan orang lain.
b. Sunnah fi’liyah (perbuatan), yaitu segala tindakan Rasulullah saw. Sebagai Rasul. Misalnya tindakan beliau mengerjakan shalat 5 waktu dengan menyempurnakan cara-cara, syarat-syarat dan rukun-rukun melaksanakan, menjalankan ibadah haji, memutuskan perkara berdasarkan bukti atau saksi dan mengadakan penyumpahan terhadap seorang pendakwa.
c. Sunnah taqririyah (persetujuan) perkataan atau perbuatan sebagian sahabat yang telah disetujui oleh Rasulullah saw. secara diam-diam atau tidak di bantahnya atau disetujui melalui pujian yang baik. Persetujuan beliau terhadap perbuatan yang dilakukan oleh sahabat itu dianggap sebagai perbuatan yang dilakukan oleh beliau sendiri. Sebagai contoh misalnya periwayatan seorang sahabat yang menceritakan bahwa: Ada dua orang sahabat bepergian, kemudian setelah datang waktu shalat mereka bertayammum karena mereka tidak mendapatkan air. Setelah mereka melanjutkan perjalanan kembali, di tengah jalan mereka mendapatkan air, sedang waktu shalat masih ada. Lalu salah seorang dari mereka berwudhu dan mengulang shalatnya kembali, sedang yang satunya tidak melakukan yang demikian. Ketika kedua orang tersebut melaporkan kepada rasulullah saw. apa yang telah mereka lakukan, maka beliau membenarkan tindakan yang telah mereka lakukan masingmasing. Beliau berkata kepada orang yang tidak mengulang shalatnya:”perbuatanmu adalah sesuai dengan sunnah, karena itu shalat yang sudah kamu kerjakan itu sudah cukup”. Kepada orang yang mengulang shalatnya beliau berkata:”kamu akan memperoleh pahala dua kali”.

 Nisbah (hubungan) sunnah dengan Al-Qur’an:
1. Menguatkan (muakkid) hukum suatu peristiwa yang telah ditetapkan hukumnya di dalam Al-Qur’an. Jadi, Al-Qur’an sebagai penetap hukum dan sunnah sebagai penguatnya.. Misalnya saja kewajiban shalat yang tercantum dalam Al-Qur’an, maka dalam sunnah mempertegas kewajiban itu ketika Nabi ditanya oleh malaikat Jibril untuk menerangkan tentang Islam, Nabi menjawab “Islam itu ialah suatu persaksianmu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan Allah, tindakanmu mendirikan shalat………..”
2. Memberikan keterangan (bayan) ayat-ayat Al-Qur’an, artinya memberikan perincian ayat-ayat Qur’an yang masih umum. Misalnya dalam Qur’an hanya dicantumkan kewajiban shalat dan sunnah menerangkan waktu-waktu shalat, jumlah rakaatnya, syarat-syarat dan rukunnya dengan mempraktekkannya langsung melalui perbuatan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

 Pembagian Sunnah
Di tinjau dari sedikit atau banyaknya orang-orang yang meriwayatkan, sunnah dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Sunnah mutawatirah, yaitu sunnah yang diriwayatkan oleh sekian banyak sahabat Nabi, dan dari sahabat-sahabat tersebut diriwayatkan pula oleh para tabi’i dan orang berikutnya dalam jumlah yang seimbang dengan jumlah sahabat yang meriwayatkan pertama. Sunnah ini banyak ditemukan pada sunnah amaliah (yang langsung dikerjakan oleh Rasul) misal cara melakukan shalat, puasa, haji dan lain-lain dimana perbuatan-perbuatan Rasul tersebut disaksikan sendiri secara langsung oleh para sahabat dengan tidak ada perubahan sedikitpun pada waktu disampaikan kepada para tabi’i dan orangorang pada generasi berikutnya.
2. Sunnah masyhurah, yakni sunnah yang diriwayatkan oleh seorang sahabat atau dua orang atau lebih yang tidak sampai mencapai derajat mutawatirah , kemudian dari sahabat tersebut diriwayatkan oleh sekian banyak tabi’i yang mencapai derajat mutawatirah dan dari sekian banyak tabi’i ini diriwayatkan oleh sekian banyak rawi yang mutawatir pula.
3. Sunnah ahad, sunnah yang diriwayatkan oleh seorang sahabat, dua orang atau lebih yang tidak sampai derajat mutawatir, kemudian diriwayatkan lagi oleh seorang tabi’i, dua orang atau lebih dan seterusnya diriwayatkan oleh perawiperawi dalam keadaan tidak mutawatir juga. Sunnah ahad ini yang paling banyak dijumpai dalam kitab-kitab sunnah. Sunnah ahad terbagi menjadi tiga:

a) Hadits shahih, ialah hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil dan sempurna ketelitiannya, sanadnya bersambung kepada Rasulullah, dan tidak mempunyai cacat (‘illat) .
b) Hadits hasan, ialah hadist yang diriwayatkan oleh perawi yang adil tetapi kurang ketelitiannya, sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah dan tidak mempunyai cacat.
c) Hadits dha’if, ialah hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits ahahih dan hadits hasan. Jumhur ulama sepakat dalam membolehkan hadits dha’if untuk menerangkan fadha’ilul amal, bukan untuk menetapkan hukum-hukum yang pokok, seperti untuk menghalalkan atau mengharamkan suatu perbuatan apalagi untuk menetapkan soal-soal aqidah.


C. Ijtihad
Ijtihad adalah mencurahkan segala kemampuan berfikir untuk mengeluarkan hukum syar’i dari dalil-dalil syara’, yaitu Al-Qur’an dan hadits. Orang-orang yang mampu menetapkan hukum suatu peristiwa dengan jalan ini disebut mujtahid. Peristiwa-peristiwa yang dapat diijtihadkan yaitu:

a. Peristiwa-peristiwa yang ditunjuk oleh nash yang zhaniyulwurud (haditshadits ahad) dan zhaniyud dalalah (nash Al-Qur’an dan hadits yang masih dapat ditafsirkan dan dita’wilkan)
b. Peristiwa yang tidak ada nashnya sama sekali. Peristiwa-peristiwa semacam ini dapat diijtihadkan dengan leluasa baik dengan perantaraan qiyas, istihsan, istishab, maslahat mursalah atau dengan jalan lainnya.
c. Peristiwa yang sudah ada nashnya yang qath’iyuttsubut dan qath’iyud dalalah. Yang terakhir ini adalah khusus dijalankan oleh Umar bin Khattab r.a. beliau meneliti nash-nash tersebut tentang tujuan syar’i dalam mensyari’atkan hukum. Kemudian beliau menerapkan ijtihadnya pada peristiwa sekalipun sudah ada nashnya yang qath’i.


Metode-metode Ijtihad

Ada beberapa metode atau cara untuk melakukan ijtihad, baik ijtihad dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain. Dia antara metode atau cara berijtihad adalah:

a) Ijma’ adalah persetujuan atau kesesuaian pendapat para ahli mengenai suatu masalah pada suatu tempat di suatu masa.. Menurut H.M. Rasjidi, Ijma’ adalah persetujuan atau kesesuaian pendapat d suatu tempat mengenai tafsiran ayat-ayat hukum tertentu dalam Al-Qur’an.
b) Qiyas adalah menyamakan hukum suatu hal yang tidak terdapat ketentuannya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan hal lain yang hukumnya di sebut dalam Al-Qur’an dan Sunahrosul karena persamaan illatnya (penyebab atau alasan)nya.
c) Istidal adalah menarik kesimpulan dari dua hal yang berlainan.
d) Masalih al-Mursalah adalah cara menemukan hukum sesuatu hal yang tidak terdapat ketentuannya baik di dalam Al-Qur’an ataupun Sunnah, berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat atau kepentingan umum.
e) Istihsan adalah cara menentukan hukum dengan jalan menyimpang dari ketentuan yang sudah ada demi keadilan dan kepentingan social.
f) Istishab adalah melangsungkan berlakunya hukum yang telah ada karena belum ada ketentuan lain yang membatalkannya.
g) ‘Urf (adat-istiadat) yang tidak bertentangan dengan hukum islam dapat di kukuhkan tetap terus berlaku bagi masyarakat yang bersangkutan.


METODE ISTIDLAL DARI EMPAT MAZHAB

ISTIDLAL Secara bahasa kata berasal dari kata Istadalla artinya : minta petunjuk, memperoleh dalil, menarik kesimpulan. Imam al-Jurjani, memberi arti istidlal secara umum, yaitu menentukan dalil untuk menetapkan sesuatu keputusan bagi yang ditunjukan. Imam Al-Syafi'i memberikan pengertian terhadap Istidlal dalam arti, menetapkan dalail dari nash ( Alquran dan al-Sunnah) atau dari ijma dan selain dari keduanya.
Terdapat arti istidlal yang lebih khusus, seperti yang dikemukakan oleh Imam Abdul Hamid Hakim, yaitu mencari dalil yang tidak ada pada nash Alquran dan al-Sunnah, tidak ada pada Ijma dan tidak ada pada Qiyas. Definisi di atas menunjukan bahwa seorang mujtahid dalam memutuskan sesuatu keputusan hukum hendaklah mendahulukan Alquran, kemudian al-Sunnah, lalu al-Ijma selanjutnya Alqiyas. Dan jika Ia tidak menemukan pada Alquran , al-Sunnah, Al-Ijma dan Qiyas, maka hendaklah mencari dalil lain. ( Istidlal ).

Dalam aliran fikih, dikenal 4 mazhab yang paling populer, yaitu:

1) Mazhab Hanafi

Mazhab Hanafi dibawa oleh Imam al A’Zham Abu Hanifah, Al-Nu’man bin Thabit bin Zuwataal-Kufi. Dilahirkan pada tahun 80H dan telah meniggal dunia pada tahun 150H. Beliau hidupdalam dua zaman pemerintahan yaitu zaman pemerintahan Bani Umaiyah dan Bani Abassiyah.Imam Abu Hanifah adalah imam al-ra’yu dan ahli fiqah Iraq, beliau sangat berhati-hati dalammenerima hadis. beliau menggunakan Qias dan Istihsan.

Metode Istidlal Imam Hanafi
Kaidah pengambilan hukum yang digunakan oleh Imam Hanafi ialah
beliau akan lebih mengutamakan al-Quran dan Sunnah setelah itu beliau akan mengambil pendapat sahabat dan sekiranya masih tidak dijumpai, beliau akan beralih pula pada ijma’ dan Qias. Kaedah terakhir yang akan digunakan sekiranya masih tiada penyelesaian ialah menggunakan Istihsan dan al- urf (kebiasaan).
Abu Hanifah sangat menghormati para sahabat dan menganggap pendapat mereka satu perkarayang wajib diikuti, lebih-lebih lagi dalam perkara yang mencapai kata ijma’ dikalangan mereka.Dalam perkara-perkara yang dipertikaikan, beliau menggunakan fikirannya memilih suatupandangan yang bersesuaian atau lebih hampir kepada dasar-dasar am dalam syariat ini.

2) Mazhab Maliki

Imam Malik bin Anas bin Abu Amir al-Asbahi ialah penggasas mazhab ini dan beliau jugamerupakan seorang imam fiqah dan Hadis Darul Hijrah (Madinah). Beliau dilahirkan padazaman al-Walid bin Abdul Malik dan meninggal di Madinah pada zaman pemerintahan al-Rasyid.Imam Malik merupakan seorang tokoh dalam bidang hadis dan fiqh. Kitab beliau al-Muwatta’merupakan penyumbang besar dalam bidng hadis dan fiqh. Imam As-Syafi’i pernah berkata ,”Malik adalah guru saya, saya menuntut ilmu darinya”. Beliau adalah hujah diantara saya denganAllah SWT. tidak ada seorang pun yang berjasa kepada saya lebih daripada Malik.Kaedah

Metode Istidlal Maliki
Kaedah pertama yang dilaksanakan oleh Imam Malik dalam menyimpulkan sesuatu hukum ialah dari al-Quran dan As-sunnah. Jika tidak didapati dari kedua-dua sumber hukum utama ini maka beliau akan beralaih pula dengan kaedah Ijma’ serta Qias dan kemudian beliau akan menggunakan pula kaidah Mashalih al-Mursalah. Imam Malik senantiasa mengutamakan al-Quran dalam menyusun dalil-dalilnya dengan terang. Beliau mengutamakn nas-nasnya, kemudian zahirnya, kemudian pengertiannya yang difahami darinya.
Kemudian beliau akan beralih pula kepada Assunnah dengan mendahulukan yang mutawatir, kemudian yang mashur,dan kemudiannya yang ahad, kemudiannya mengikut susunan-susunan nasnya zahirnya danpengertian-pengertian yang difahami darinya. Kemudian beliau akan beralih pula kepada Ijma’. Apabila semua sumber pokok ini tidak ada maka barulah beliau menggunakan qias sertamenyimpulkan hukum-hukum daripadanya”

3) Mazhab Syafi’i

Mazhab ini digagas oleh Al-Imam Abu Abdullah, Muhammad bin Idris al-Qurasyi al- Hasyimial-Muttalibi bin al-Abbas bin Othman bin Syafi’i,(rahimahullah) masih senasab dengan Rasulullah SAW. Beliau dilahirkan di Ghazzah Palestin pada tahun 150H. Imam Syafie diasuh dan dibesarkan dalam keadaan anak yatim. Beliau telah menghafal al-Quran sejak kecil.Imam Ahmad bin Hanbal telah bertemu dengan Imam Syafie di Makkah pada tahun 187H dan diBaghdad pada tahun 195H. Beliau mengajar Imam Ahmad ilmu fiqah dan usul fiqah serta ilmu nasikh dan mansukh al-Quran.Di antara hasil karya beliau ialah al-Risalah yang merupakan penulisan pertamanya dalambidang ilmu usul fiqah dan kitab al-umm di bidang fiqh berdasarkan mazhab jadidnya. Imam As-Syafie adalah seorang mujtahid yang mutlak. Beliau merupakan imam dalam bidang fiqah, Hadis dan usul. Beliau telah berjaya mencantumkan ilmu fiqah ulama hijaz dengan ulama Iraq. ImamAhmad pernah menyebut bahawa Imam Syafie adalah orang paling alim

Metode Istidlal Imam Syafi’i
Sumber Mazhab Imam Syafie ialah al-Quran dan sunnah. kemudian diikuti pula oleh ijma’dan qias. Beliau tidak mengambil pendapat sahabat karena merupakan ijtihad yang berkemungkinan salah. melainkan mengambil apa yang jadi ijma' para sahabat Beliau juga beramal dengan istihsan yang diterima dalam mazhab Hanafi dan Maliki. kecenderungan fleksibel imam syafi'i atas dasar rohmatan lil alamin dan mufaqot


4) Mazhab Hambali

Penggasasnya yaitu Imam Abu Abdullah, Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad al-Zuhaili al-Shaibani. Beliau telah dilahirkan dan dibesarkan di Baghdad dan beliau juga telah wafat di sana pada bulan Rabiulawal. Imam Ahmad telah mempelajari ilmu fiqah dari Imam Syafi’i ketika di Baghdad. Akhirnya Imam Ahmad menjadi seorang mujtahid mustaqil. Beliau merupakan imam dalam bidang Hadis, Sunnah dan fiqh. Imam Syafi’i berkata pada masabeliau meninggalkan Baghdad menuju ke Mesir, “ aku keluar dari Baghdad dan tidak meninggalkan orang yang lebih taqwa dan alim dalam bidang fiqah selain ibnu Hanbal”.

Metode Istidlal Imam Hambali
Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana imam-imam yang lain meletakkan al-Quran dan Assunnah sebagai sumber utama dalam perundangan Islam. Beliau juga beramal dengan Ijma’dan qias, kalau terdapat nas yang nyata dalam al-Quran dan hadis mutwatir, tidak harus berpegang kepada sumber-sumber lain seperti pendapat sahabat atau qias, tetapi terdapat jugaperbedaan antara beliau dan imam-imam mujtahid yang lain dalam menyimpulkan sesuatuhukum seperti penggunaan Istishab dan Sad al-dzara’i

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

Islam mempunyai dua sumber hukum yang utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits, sedangkan untuk merumuskan suatu hukum baru yang tidak terdapat pada keduanya di perlukanlah ijtihad yang tetap mendasarkan pada Al-Qur’an dan hadits.
Dalam melakukan Ijtihad ada beberapa metode di antaranya Ijma’, Qiyas, Istidal, al-Masalih al-Mursalah, Istihsan, Istishab, ‘Urf dan lain-lain.

Dari keempat Mazhab mempunyai istidlal yang berbeda-beda di antaranya:
 Imam Hanafi ialah beliau akan lebihmengutamakan al-Quran dan Sunnah setelah itu beliau akan mengambil pendapat sahabat dansekiranya masih tidak dijumpai, beliau akan beralih pula pada ijma’ dan Qias. Kaedah terakhir yang akan digunakan sekiranya masih tiada penyelesaian ialah menggunakan Istihsan dan al- urf (kebiasaan).
 Imam Malik dalam menyimpulkan sesuatu hukum ialah dari al-Quran dan Assunnah. Jika tidak didapati dari kedua-dua sumber hukum utama ini makabeliau akan beralaih pula dengan kaedah Ijma’ serta Qias dan kemudiannya beliau akanmenggunakan pula kaidah Mashalih al-Mursalah
 Imam Syafie ialah al-Quran dan sunnah. kemudiannya diikuti pula olehijma’dan qias
 Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana imam-imam yang lain meletakkan al-Quran danAssunnah sebagai sumber utama dalam perundangan Islam. Beliau juga beramal dengan Ijma’dan qias, kalau terdapat nas yang nyata dalam al-Quran dan hadis mutwatir, tidak harusberpegang kepada sumber-sumber lain seperti pendapat sahabat atau qias, tetapi terdapat jugaperbedaan antara beliau dan imam-imam mujtahid yang lain dalam menyimpulkan sesuatuhukum seperti penggunaan Istishab dan Sad al-dzara’i


DAFTAR PUSTAKA

Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, Prof. Dr. M.A, Pengantar perbandingan Mazhab, Jakarta: Gaung Persada (GP) Press, Cet ke-IV, 2011
H. Muhamad Daud Ali, Prof. S.H, Hukum Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.Cetakan XVI, 2011
Adiwarman Karim, Bank Islam: Analisis Fikih dan Keuangan, Jakarta: PT.RajaGrafindoPersada, 2004
Atang Abd. Hakim, dan Mubarak, Jaih, Metodologi Studi Islam, Bandung PT. RemajaRosdakarya, 2006
Azyumardi,Azra. Pendidikan Agama Islam Pada Perguruan Tinggi Umum. Jakarta:Direktorat Perguruan Agama Islam.Cetakan III,2002.
Hadits Bukhari dan Muslim. Muhammad Ali As-Sayis. Sejarah Pembentukan Dan Perkembangan Hukum Islam. (terj) oleh Drs. H. Dedi Junaedi dan Dra. H. Hamidah, dari judul asli Tarikh Al-Fiqh Al-Islami.Jakarta:CV Akademia Pressindo.1996.
Nata, Abuddin. Al-Quran dan Hadits.Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.Cetakan VII, 2000.
Siba’i, al-Mustafa. Sunnah dan Peranannya Dalam Penetapan Hukum Islam. Jakarta:Pustaka Firdaus.cet. I,1991.

Tugas makalah : M. Khoirul Muslimin - Ushuluddin - universitas gus dur (undar) jombang

LAKI-LAKI PEREMPUAN DALAM 1 (satu) KELAS

 PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum bagaimana hukum sekolah. Murid cewek dan cowok dicampur 1 sekolah / kelas. Bahkan ada sekolah yang seragam nya buka-buka aurat (rok pendek ) ! Boleh kah kita bilang sekolah yang seperti itu tempat maksiat..! [Chafaney Racer].

JAWABAN :
 

Kami kutipkan hasil bahtsul masaail FBMP sebagai berikut : Deskripsi Masalah Campur Aduk Siswa-Siswi :
Hampir di setiap lembaga pendidikan di Indonesia dari tingkat bawah sampai perguruan tinggi tidak membatasi antara siswa dan siswi dalam satu kelas. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya fitnah seperti pacaran, ikhtilat DLL. Pertanyaan:
1.Apakah lembaga tersebut tergolong madzinnatul ikhtilat?
2.Bagaimana hukum menjalankan pendidikan di lembaga tersebut?
3.Apa yang harus di lakukan pimpinan/pengurus, menyikapi permasalahan di atas?
[Al-Islah, Bringin]
 

Jawaban:
1. Tergolong madzinnatul ikhtilat (tempat diduga kuat terjadi percampuran/ikhtilat).
Referensi
§Isadur- rofiq Juz 2 hal 67
§Ianatut- thalibin Juz 1 hal 313
§Mughnil-muhtaj Juz 3 hal 407
§Ianatut- thalibin Juz 1 hal 64
1. إسعاد الرفيق الجزء الثانى ص: 67
( خاتمة ) من أقبح المحرمات, واشد المحظرات اختلاط  الرجال بالنساء فى المجموعات لما يترتب على ذلك من المفاسد والفتن القابحة . قال سيدنا الحداد فى بعض مكاتباته لبعض الامراء , وما ذكرتم من اجتماع النساء متزينات بمحل قريب من محل رجال يجتمعون فيه منسوب لسيدنا عمر المحضار فإن خيفت فتنة بنحو سماع صوت فهو من المنكرات التى يجب النهي عنها على ولاة الامر ويحسن من غيرهم اذاخاف على نفسه ان يحضرهم لقوله عليه الصلاة والسلام لما وصف الفتنة " وعليك بخاصة نفسك ودع عنك أمر العامة " وهذا الزمان وأهله قد صار الى فساد عظيم وفتن هائلة واغراض عن الله والدار الاخرة لا يمكن الاحتراز عنها اهـ .
2. إعانة الطالبين - (ج 1 / ص 313)
ومنه الوقوف ليلة عرفة أو المشعر الحرام، والاجتماع ليالي الختوم آخر رمضان، ونصب المنابر والخطب عليها، فيكره ما لم يكن فيه اختلاط الرجال بالنساء بأن تتضام أجسامهم. فإنه حرام وفسق.
3. مغني المختاج ج3/ ص407
(تنبيه) يجوز للرجل ان يحلو بامرأتين اجنبيين ثيقتين فأكثر كما نقله الرافعي عن الاصحاب اهـ 44
4. إعانة الطالبين - (ج1 / ص 64) بيجوري(ج1/ص72)
قوله لانتفاء الشهوة اي لانتفاء المحل الذي يظن فيه وجود الشهوة قال في القاموس مظنة الشيئ موضع يظن فيه وجود الشيئ .

2.  Bila diduga kuat akan terjadi hal – hal yang diharamkan seperti  :
a. ikhtilatur rijal bin nisa' (campurnya lelaki dan perempuan).
b. safarotul mar'ah (bepergiannya wanita) dengan tanpa suami dan
c. khouful fitnah (khawatir terjadi fitnah)
d. nadzru dan sam'u as saouti bis syahwah (melihat dan mendengar suara dengan syahwat) maka hukumnya haram.
Referensi :
§Almufasshal Juz 2 hal 432
§Fatawi lajnah addaima libuhutsil amaliyah wal ifta' 14 hal 273
§Majmu' Syarhil muhaddab Juz 4 hal 484
§Ianatut thalibin Juz 3 hal 263
§Ihya' Ulumiddin Juz 4 hal 33
§I'anatutthalibin Juz 3 hal 263
§I'anatutthalibin Juz 3 hal 260
§Al bajuri Juz 2 hal 97
§Al Fatawalfiqhiyal kubro Juz 1 hal 203
§Al majmu'Juz 7 hal 87
§Al-halal wal-harom fil-Islam hal 31
1.( المفصل 2 / 432 )
هل يباح الإختلاط لغرض التعليم
ونسأل هنا : هل يباح الإختلاط لغرض التعليم فتجلس الإناث مع الذكور في غرفة واحدة لتلقي الدرس كما يجري الأن في الكليات ؟ أم لابدبين الفصل الذكور والإناث وتعليم كل صنف على حدة في غرفة مستقلة به ؟
والجواب : لابد من الفصل وتعليم النساء على حدة وتعليم الرجال على حدة والدليل على ذلك الحديث الذي أخرجه الإمام البخاري عن أبي سعيد الخذري قال قالت النساء للنبي غلبنا عليك الرجال فاجعل لنا يوما في نفسك فوعدهن يوما لقيهن فوعدهن وأمرهن فكان مما قال لهن ما منكن إمراة تقدم ثلاثة من ولدها إلا كان حجابا من النار فقالت إمرأة واثنتين فقال واثنتين ومعنى غلبنا عليك الرجال أن الرجال يلازمونك كل الأيام ويسمعون العلم وأمور الدين ويستنبط من هذا الحديث كما قاله الإمام العيني جواز سؤال النساء عن أمور دينهن وجواز كلامهن مع الرجال في ذلك وفيما لهن الحاجة اليه فهذا الحديث يدل على تعليم النساء يكون على حدة ووحدهن دون اختلاط بالرجال إذ لو كان الإختلاط لسماع العلم وتعليم أمور الدين سائغا لما طلبن من النبي أن يعين لهن يوما خاصا بهن يجتمع فيه بهن يعلمهن أمور الدين ولذلك لو كان اختلاطهن بالرجال سائغا لتعليم أمور الدين لما جعل لهن النبي يوما وحدهن عندما طلبن ذلك منه ويستفاد أيضا من الحديث الشريف أنه لا يسوغ الإختلاط في التعليم عن طريق جعل النساء خلف الرجال كما هو جائز في الصلاة
2. فتاوى اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء - (ج 14 / ص 273)
ما هي النظرة الشرعية في وجود الأستاذ مع الطالبات، مباشرة دون فاصل، في قاعة التدريس، وإلقاء محاضرته، بشرط أن تكون الطالبة متحلية بالزي والحجاب الإسلامي، علما بأن الخلوة لا تتوفر مع وجود أكثر من طالبة في القاعة ؟ 2- ما هي النظرة الشرعية في تدريس الطلاب والطالبات معًا في قاعة واحدة، بشرط أن تتحلى الطالبة بالزي والحجاب الإسلامي، ووجود فاصل أو مقاعد أمامية مخصصة للطلاب، ومخارج ومداخل خاصة بالطالبات ؟ أرجو أن أحظى بإجابة سعادتكم في أسرع وقت ممكن، على العنوان المذكور. والله يحفظكم ويرعاكم. وبعد دراسة اللجنة للاستفتاء أجبت: بأنه لا يجوز ذلك؛ لما في ذلك من المفاسد العظيمة، وتعريض الجميع للفتنة. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم. اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء
3. المجموع على شرح المهذب 4/484
فقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع أن المرأة لا جمعة عليها وقوله ولانها تختلط بالرجال وذلك لا يجوز ليس كما قال فانها لا يلزم من حضورها الجمعة الاختلاط بل تكون وراءهم وقد نقل ابن المنذر وغيره الاجماع علي انها لو حضرت وصلت الجمعة جاز وقد ثبتت الاحاديث الصحيحة المستفيضة أن النساء كن يصلين خلف رسول الله صلي الله عليه وسلم في مسجده خلف الرجال ولان اختلاط النساء بالرجال إذا لم يكن خلوة ليس بحرام
4. اعانة الطالبين ج3 /ص263 در الفكر
قال ابن الصلاح: ليس المعنى بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها بل يكفي ان لا يكون ذلك نادرا.
5. احياء علوم الدين ج4 /ص23 در احياء العربيه
وتحصيل مظنة المعصية ونعنى بالمظنة ما يشعر من الانسان به لوقوع المعصية غالبا.
7. إعانة الطالبين - (ج 3 / ص 263)
قال ابن الصلاح: وليس المعنى بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها، بل يكفي أن لا يكون ذلك نادرا. وما ذكره من تقييد الحرمة، بكونه بشهوة، هو ما عليه الرافعي، والمعتمد ما عليه النووي من حرمة النظر إليه مطلقا سواء كان بشهوة أو خوف فتنة أم لا. قال في فتح الجواد: والخلوة به وإن تعدد أو مس شئ من بدنه حرام، حتى على طريقة الرافعي، لانهما أفحش، والكلام في غير المحرم بنسب وكذا رضاع، كما هو ظاهر، لا مصاهرة فيما يظهر. والمملوك كله الناظر بشرط كون كل منهما ثقة فيما يظهر أخذا مما مر في نظر العبد لسيدته أو عكسه. وبه علم حل نظر عبد لسيده الامرد.
8. إعانة الطالبين - (ج 3 / ص 260)
(قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة.
9. الباجوري الجزء الثاني ص: 97
ومثل الشهوة خوف الفتنة : فلو انتفت الشهوة وخيفت الفتنة حرم النظر أيضا وليس المراد بخوف الفتنة غلبة الظن بوقوعها بل يكفي أن لا يكون ذلك نادرا وإن كان بغير شهوة –الى ان قال-  (قوله إلى الأجنبية) أي إلى شيئ من امرأة أجنبية أي غير محرم ولو أمة وشمل ذلك وجهها وكفيها فيحرم النظر إليهما ولو من غير شهوة أو خوف فتنة على الصحيح كما في المنهاج وغيره ووجهه الإمام باتفاق المسلمين – إلى أن قال- وقيل لا يحرم لقوله تعالى : "ولا يبدين زينتهن إلا ما ظهر منها" وهومفسر بالوجه والكفين ، والمعتمد الأول ولا بأس بتقليد الثاني لا سيما في هذا الزمان الذي كثر فيه خروج النساء في الطرق والأسواق
10. الفتاوى الفقهية الكبرى  - (ج 1 / ص 203)
والمراد بالفتنة الزنا ومقدماته من النظر والخلوة واللمس وغير ذلك .
11. المجموع - (ج 7 / ص 87)
(فرع) هل يجوز للمرأة ان تسافر لحج التطوع أو لسفر زيارة وتجارة ونحوهما مع نسوة ثقات أو امرأة ثقة فيه وجهان وحكاهما الشيخ أبو حامد والماوردي والمحاملي وآخرون من الاصحاب في باب الاحصار وحكاهما القاضي حسين والبغوى والرافعي وغيرهم (احدهما) يجوز كالحج (والثاني) وهو الصحيح باتفاقهم وهو المنصوص في الام وكذا نقلوه عن النص لا يجوز لانه سفر لبس بواجب هكذا علله البغوي ويستدل للتحريم ايضا بحديث ابن عمر أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال (لا تسافر امرأة ثلاثا الا ومعها محرم) رواه البخاري ومسلم وفى رواية لمسلم (لا يحل لامراة تؤمن بالله واليوم الآخر أن تسافر مسيرة ثلاث ليال الا ومعها ذو محرم)-الى ان قال- (فرع) اتفق اصحابنا علي ان المرأة إذا اسلمت في دار الحرب لزمها الخروج الي دار الاسلام وحدها من غير اشتراط نسوة ولا امرأة واحدة قال أصحابنا وسواء كان طريقا مسلوكا أو غير مسلوك لان خوفها علي نفسها ودينها بالمقام فيهم أكثر من خوف الطريق وإن خافت في الطريق سبعا لم يجب سلوكه هكذا ذكر هذه المسألة بتفصيلها هنا القاضي حسين والمتولي وغيرهما وذكرها الاصحاب في كتاب السير
الحلال والحرام في الاسلام ص 31
ومن المبادئ التي قررها الاسلام أنه اذا حرم شيأ حرم ما يقتضي اليه من وسائل سدا للذرائع الموصولة اليه فاذا حرم الزنا مثلا حرم كل مقدماته ودواعيه من تبرج جاهلي وخلوة آثمة واختلاط عابث وصورة عارية واداب مكشوف وغناء فاحش –الى ان قال – ومن هنا قرر الفقهاء هذه القاعدة "ما ادى الى الحرام فهو حرام" ويشبه هذا ما قرره الاسلام كذلك من أن اثم الحرام لا يقتصر على فاعله المباشر وحده بل يوسع الدائرة فتشمل كل من شارك فيه بجهد مادي او ادبي كل يناوله من الاثم على مشاركته ففي الخمر يلعن النبي عليه الصلاة والسلام شاربها وعاصرها وحاملها والمحمولة اليها وآكل ثمنها اهـ.
3. Wajib menghilangkan segala hal yang mengarah terhadap kemungkaran sesuai kemampuan. Wallohu a'lam. [Brojol Gemblung].

Referensi : Isadur- rofiq Juz 2 hal 96 :
1. اسعاد الرفيق ج2/ص96
(قال فى المصباح: واول واجب عند مشاهدة المنكرالتعريف والنهي باللطف والرفق والشفقة فانه حصل المقصود والا وعظ وخوف وغلظ القول وعنف فان أجدي وإلا منع وقهر باليد وغيرها والغالب فى لاولين الاستطاعة ومدعى التعجز عنهما متعلل ومتعذرز واما الااخير فلا يستطيعها غالبا الامن بذل نفسه لله وجاهد بماله ونفسه في سبيل الله وصار لا يخاف في الله لومة لائم او كان مأذونا له في تغيير المنكر نت جهة السلطان اهـ  بمعناه.